WELCOME TO MY BLOG.... :)
Please Enjoy Your Self

Selasa, 30 Oktober 2012

Kelainan Pada Air Ketuban


POLIHIDRAMNION DAN OLIGOHIDRAMNION


A.    Polihidramnion
1.      Definisi
Suatu kejadian dimana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari normal biasanya lebih dari 2 liter. Dalam beberapa literatur ada yang membagi polihidramnion menjadi dua tergantung dari berapa lama perjalanan penyakitnya, yaitu:
a.       Polihidramnion akut
Terjadinya pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa hari saja.
b.      Polihidramnion kronis
Pertambahan air ketuban yang terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu atau bulan dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut.

2.      Etiologi
Polihidramnion bisa dijumpai bila produksi air ketuban oleh sel pelapis selaput ketuban serta peresapan cairan melalui selaput ketuban terjadi secara berlebihan. Penyebab keadaan tersebut belum bisa dipastikan secara benar, salah satu yang dicurigai adalah adanya proses infeksi. Dua pertiga kasus polihidramnion tidak diketahui sebabnya seperti disebutkan sebelumnya, produksi paling dominan air ketuban adalah hasil dari proses urinasi atau produksi air kencing janin. Sudah dijelaskan bahwa janin meminum air ketuban dalam jumlah yang seimbang dengan air kencing yang diproduksi. Bila keseimbangan ini berubah, yaitu produksi air kencing berlebihan atau bayi tidak mampu meminum air ketuban dapat terjadi polihidramnion. 
Pada cacat bawaan sehingga air ketuban tak bisa tertelan, misalnya karena sumbatan atau penyempitan saluran pencernaan bagian atas, volume air ketuban akan meningkat secara drastis. Demikian pula bila kemampuan menelan janin mengalami gangguan, misalnya janin lemah karena hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut system saraf pusat hingga fungsi gerakan menelah mengalami kelumpuhan. Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin yang dikandungnya juga bisa mengakibatkan terjadinya polihidramnion.
Polihidramnion sering terkait dengan kelainan janin :
a.       Anensephali 
b.      Spina bifida 
c.       Atresia oesophagus 
d.      Omphalocele 
e.       Hipoplasia pulmonal
f.       Hidrop fetalis 
g.      Kembar monozigotik 
h.      Hemangioma
Polihidramnion sering berkaitan dengan kelainan ibu :
a.       Diabetes Melitus 
b.      Penyakit jantung 
c.       Preeklampsia 
Perkembangan polihidramnion berlangsung secara gradual dan umumnya terjadi pada trimesteri III.
Kondisi yang berisiko tinggi menyebabkan polihidramnion :
a.       Kehamilan kembar
b.      Diabetes
c.       Eritroblastosis
d.      Malformasi janin
3.      Diagnosis
a.       Anamnesis 
·         Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa.
·         Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak.
·         Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat terdapat keluhan-keluhan.
·         Nyeri perut karena tegangnya uterus mual dan muntah.
·         Oedema pada tungkai, vulva dan dinding perut.
·         Pada proses akut dan perut besar sekali, bisa syok, berkerigat dingin, sesak.
b.      Inspeksi 
·         Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut berkilat, retak-retak kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar.
·         Jika akut, ibu akan terlihat sesak dan sianosis serta terlihat payah membawa kandungannya.
c.       Palpasi.
·         Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada dinding perut, vulva dan tungkai.
·         Fundus uteri lebih tinggi dari umur sesungguhnya.
·         Bagian janin sukar dikenali.
·         Kalau pada letak kepala, kepala janin dapat diraba pada balotement jelas sekali karena bebasnya janin bergerak dan tidak terfiksasi maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin. 
d.      Auskultasi
DJJ sukar didengar dan jika terdengar hanya sekali. 
e.       Rontgen foto abdomen
·         Nampak bayangan terselubung, karena banyaknya cairan kadang bayangan janin tidak jelas.
·         Foto roentgen pada hidramnion berguna untuk diagnostic dan untuk menentukan etiologi.
·         Pemeriksaan dalam selaput ketuban terasa tegang dan menonjol walaupun diluar his.

4.      Diagnosa Banding
a.       Hidramnion
b.      Gameli
c.       Asites
d.      Kista avanii
e.       Kehamilan beserta tumor

5.      Komplikasi
a.       Malpresentasi janin
b.      KPD
c.       Prolaps tali pusat
d.      Persalinan preterm
e.       Gangguan pernapasan pada ibu

6.      Prognosis
a.       Pada janin
·         Kongenital anomaly
·         Prematuritas
·         Komplikasi karena kesalahan letak anak
·         Eritoblastosis
b.      Pada ibu
·         Solusio plasenta
·         Atonia uteri
·         Perdarahan post partum
·         Retensio plasenta
·         Syok

7.      Penatalaksanaan
a.       Dilakukan pemeriksaan ultrasonografi secara teliti antara lain untuk melihat penyebab dari keadaan tersebut.
b.      Dilakukan pemeriksaan OGTT untuk menyingkirkan kemungkinan diabetes  estasional.
c.       Bila etiologi tidak jelas, pemberian indomethacin dapat memberi manfaat bagi 50% kasus .
d.      Pemeriksaan USG janin dilihat secara seksama untuk melihat adanya kelainan ginjal janin.
e.       Meskipun sangat jarang, kehamilan monokorionik yang mengalami komplikasi sindroma twin tranfusin terjadi polihidramnion pada kantung resipien dan harus dilakukan amniosintesis berulang untuk mempertahankan kehamilan.

8.      Terapi
Terapi hidramnion dibagi menjadi 3 fase:
a.       Waktu hamil
·         Polihidramnion ringan, jarang diberi terapi klinis cukup diobservasi dan berikan terapi simptomatis.
·         Pada polihidramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di rumah sakit dan bedrest.
b.      Waktu partus
·         Bila tidak ada hal-hal yang mendesak maka sikap kita menunggu.
·         Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis, maka lakukan transvaginal melalui servik bila sudah ada pembukaan.
·         Bila sewaktu pemerikasaan dalam, ketuban tiba-tiba pecah, masukkan jari tangan ke dalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan.
c.       Post Partum 
·         Periksa Hb.
·         Pasang infus.
·         Pemberian antibiotic.

B.     Oligohidramnion
1.      Definisi
Air ketuban memiliki beberapa peranan yang penting diantaranya melindungi bayi dari trauma, terjepitnya tali pusat, menjaga kestabilan suhu dalam rahim, melindungi dari infeksi, membuat bayi bisa bergerak sehingga otot2nya berkembang dengan baik serta membantu perkembangan saluran cerna dan paru janin.
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal, yaitu kurang dari 500 cc. VAK (Volume Air Ketuban) meningkat secara stabil saat kehamilan, volumenya sekitar 30 cc pada 10 minggu dan mencapai puncaknya 1 Liter pada 34-36 minggu, yang selanjutnya berkurang. Rata-rata sekitar 800 cc pada akhir trisemester pertama sampai pada minggu ke-40. Berkurang lagi menjadi 350 ml pada kehamilan 42 minggu, dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu. Tingkat penurunan sekitar 150 ml/minggu pada kehamilan 38-43 minggu. 
Mekanisme perubahan tingkat produksi AFV belum diketahui dengan pasti, meskipun diketahui berhubungan dengan aliran keluar-masuk cairan amnion pada proses aktif. Cairan amnion mengalami sirkulasi dengan tingkat pertukaran sekitar 3600 mL/jam. 3 faktor utama yang mempengaruhi AFV :
a.       Pengaturan fisiologis aliran oleh fetus.
b.      Pergerakan air dan larutan didalam dan yang melintasi membrane.
c.       Pengaruh maternal pada pergerakan cairan transplasenta
Oligohidramnion lebih sering ditemukan pada kehamilan yang sudah cukup bulan karena VAK biasanya menurun saat hamil sudah cukup bulan. Ditemukan pada sekitar 12 % kehamilan yang mencapai 41 minggu.

2.      Epidemiologi
US : merupakan komplikasi pada 0,5 – 5,5% kehamilan. Severe oligohydramnion terjadi pada 0,7% kehamilan.

3.      Etiologi
Adapun penyebab terjadinya oligohidramnion menurut beberapa ahli yaitu:
a.       Fetal
 - Kromosom
 - Congenital
 - Hambatan pertumbuhan janin
 - Kehamilan posterm
 - Premature ROM (Rupture of amniotic membranes)
b.      Maternal
- Dehidrasi.
- Insufisiensi uteroplasental.
- Preeklampsia.
- Diabetes.
- Hipoksia kronis.
Kondisi Yang Berisiko tinggi Menyebabkan Oligohidramnion :
a.       Anomali kongenital
b.      Penyakit virus
c.       IUGR
d.      Insufisiensi uteroplasenta
e.       KPD
f.       Hipoksia janin
g.      Aspirasi mekonium dan cairan yang bercampur mekonium, dan lain-lain.
(Hellen, 2003)

4.      Patofisiologi
Secara umum, oligohidramnion berhubungan dengan :
a.       Ruptur membran amnion / ruptur of amniotic membranes (ROM).
b.      Gangguan congenital dari jaringan fungsional ginjal atau obstructive uropathy.
c.       Keadaan-keadaan yang mencegah pembentukan urin atau masuknya urin ke kantung amnion.
d.      Fetal urinary tract malformations: seperti renal agenesis, cystic dysplasia, dan atresia uretra.
e.       Reduksi kronis dari produksi urin fetus sehingga menyebabkan penurunan perfusi renal.
f.       Sebagai konsekuensi dari hipoksemia yang menginduksi redistribusi cardiac output fetal.
g.      Pada growth-restricted fetuse, hipoksia kronis menyebabkan kebocoran aliran darah dari ginjal ke organ-organ vital lain.
h.      Anuria dan oliguria
Namun dari beberapa kepustakaan juga menyatakan bahwa mekanisme atau patofisiologi terjadinya oligohidramnion dapat dikaitkan dengan adanya sindroma potter dan fenotip pottern, dimana, Sindroma Potter dan Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan gagal ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban yang sedikit). 
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter). Selain itu, karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal. 
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.  
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari sindroma Potter. 
Gejala Sindroma Potter berupa : 
a.       Wajah Potter (kedua mata terpisah jauh, terdapat lipatan epikantus, pangkal hidung yang lebar, telinga yang rendah dan dagu yang tertarik ke belakang).
b.      Tidak terbentuk air kemih. 
c.       Gawat pernafasan.

5.      Gambaran Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada kasus oigohidramnion yaitu:
a.       Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
b.      Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.
c.       Sering berakhir dengan partus prematurus.
d.      Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
e.       Persalinan lebih lama dari biasanya.
f.       Sewaktu his akan sakit sekali.
g.      Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.
Selain itu terdapat beberapa faktor-faktor yang sangat berisiko pada wanita yang dapat meningkatkan insidensi kasus oligohidramnion yaitu:
a.       Anomali kongenital ( misalnya : agenosis ginjal,sindrom patter ). Retardasi pertumbuhan intra uterin.
b.      Ketuban pecah dini ( 24-26 minggu ).
c.       Sindrom pasca maturitas.
6.      Komplikasi
a.       Hipoplasia paru
b.      Deformitas pada wajah dan skelet
c.       Kompresi tali pusat
d.      Aspirasi mekonium pada masa intrapartum
e.       Kematian janin

7.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasa dilakukan : 
a.       USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal).
b.      Rontgen perut bayi.
c.       Rontgen paru-paru bayi. 
d.      Analisa gas darah.

8.      Akibat Oligohidramnion
a.       Bila terjadi pada permulaan kehamilan maka janin akan menderita cacat bawaan dan pertumbuhan janin dapat terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu picak seperti kertas kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.
b.      Bila terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club-foot, cacat bawaan karena tekanan atau kulit jadi tenal dan kering (lethery appereance).

9.      Tindakan Konservatif 
a.       Tirah baring.
b.      Hidrasi.
c.       Perbaikan nutrisi.
d.      Pemantauan kesejahteraan janin (hitung pergerakan janin, NST, Bpp).
e.       Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion.
f.       Amnion infusion.
g.      Induksi dan kelahiran










Gambar









DAFTAR PUSTAKA


Varney, Hellen,dkk.2003.Buku Ajar Asuhan Kebidanan.Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono.2009.ILmu Kebidanan.Jakarta : PT Bina Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar